Mengungkap Fenomena Cute Economy: Strategi Emosional dan Diplomasi Budaya dari Jepang ke Indonesia

Dunia ekonomi tidak pernah berhenti berevolusi, melahirkan berbagai model bisnis yang unik dan adaptif. Salah satu fenomena menarik yang kini tengah menjadi sorotan adalah cute economy, atau ekonomi berbasis "imut". Konsep ini berhasil dibedah secara mendalam dalam sebuah diskusi kolaborasi bertajuk "Culture Meets Market" yang diselenggarakan oleh CORE Indonesia dan Urban Culture Lab, Tokyo City University, pada Senin (08/9/25). Acara ini menghadirkan Prof. Riela Provi Drianda, seorang Associate Professor sekaligus Kepala Urban Culture Lab, Tokyo City University, sebagai pembicara utama, yang menguraikan bagaimana daya tarik "kelucuan" mampu bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi bernilai tinggi.

Dalam paparannya, Prof. Riela menjelaskan bahwa kemunculan cute economy dapat ditelusuri sejak sekitar tahun 2014. Pada masa itu, media sosial dihebohkan dengan tren berbagi konten hewan-hewan lucu, seperti kucing atau kelinci, yang dengan cepat merebut perhatian publik. Respon sederhana berupa komentar "aww" yang dilontarkan oleh para pengguna internet, secara mengejutkan, berevolusi menjadi sebuah komunitas global yang masif. Dari komunitas inilah, kemudian lahir pasar-pasar baru yang memiliki nilai ekonomi yang signifikan, menunjukkan bahwa sentimen emosional dapat menjadi pendorong utama dalam konsumsi.

Jepang: Epicentrum Keberhasilan Ekonomi "Imut" Global

Jepang, sebagai salah satu kiblat budaya pop global, menjadi contoh paling gemilang dalam implementasi dan kesuksesan cute economy. Prof. Riela menyoroti bagaimana karakter-karakter seperti Rilakkuma dan Chikawa, yang awalnya mungkin hanya dianggap sebagai hiburan anak-anak, telah melampaui batasan tersebut. Kini, karakter-karakter "imut" ini tidak hanya digemari oleh anak-anak, melainkan juga menempel erat pada generasi yang kini memiliki daya beli yang besar. Loyalitas emosional yang terbangun sejak masa kecil ini secara otomatis bertransformasi menjadi pola konsumsi yang berkelanjutan dan loyal.

Keberhasilan Rilakkuma adalah bukti nyata dari kekuatan ekonomi ini. Karakter beruang cokelat yang menggemaskan ini tidak hanya populer di kalangan konsumen, namun juga telah diangkat sebagai ikon resmi Kota Chiyoda. Kehadirannya tidak terbatas pada produk-produk merchandise standar, melainkan merambah ke berbagai lini, mulai dari souvenir, restoran tematik yang menyajikan pengalaman unik, hingga dekorasi museum. Dampak ekonominya pun sangat luar biasa; ukuran pasar ritel untuk karakter Rilakkuma dilaporkan mampu menembus angka 250 juta yen, sebuah angka yang fantastis untuk sebuah karakter fiksi.

Fenomena serupa juga terjadi pada karakter Chikawa. Lisensi karakter Chikawa berhasil menembus pasar internasional, bahkan menyeberang hingga ke Hong Kong. Di sana, karakter ini digunakan untuk menghias stasiun dan kereta, menciptakan pengalaman visual yang menarik bagi masyarakat. Lebih dari sekadar estetika, ekspansi lisensi Chikawa ini juga turut berkontribusi dalam penciptaan lapangan kerja baru di sektor kreatif, menunjukkan kapasitas cute economy dalam mendorong pertumbuhan industri.

Prof. Riela menambahkan sebuah perspektif menarik mengenai budaya Jepang, "Bagi orang Jepang, superhero bukanlah sosok besar dan berotot, tapi karakter kecil, muda, dan imut." Pernyataan ini diperkuat dengan dominasi film Detective Conan, karakter detektif cilik yang cerdas, atas film-film Marvel di tangga box office Jepang. Ini menggarisbawahi bagaimana identitas dan preferensi budaya lokal memiliki pengaruh besar terhadap apa yang dianggap menarik dan berhasil di pasar.

Nuansa Budaya dan Potensi Lintas Negara

Namun, Prof. Riela juga menekankan sebuah poin krusial: persepsi tentang "imut" sangatlah berbeda di setiap budaya. Apa yang dianggap menggemaskan dan laku keras di Indonesia, bisa jadi tidak diterima dengan baik di Jepang, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, strategi desain produk dan kemasan harus disesuaikan secara cermat dengan karakteristik dan preferensi pasar yang dituju. Pemahaman mendalam tentang konteks budaya lokal menjadi kunci keberhasilan dalam menembus pasar internasional.

Tren lintas negara kini semakin menonjol, membuka peluang baru bagi kolaborasi dan ekspansi cute economy. Di Indonesia, misalnya, terlihat fenomena anak muda yang mengadopsi street fashion ala Jepang, menunjukkan adanya pertukaran budaya yang dinamis. Di sisi lain, generasi muda Jepang juga menunjukkan peningkatan ketertarikan yang serius dalam perawatan kulit, sebuah segmen pasar yang juga potensial untuk diisi oleh produk-produk "imut" dengan nuansa lokal.

Sebuah riset kecil yang dilakukan oleh mahasiswa Jepang menemukan hasil yang sangat menjanjikan: 70 persen responden menyatakan minat untuk membeli bath bomb dengan aroma khas Indonesia. Mereka bahkan menilai produk semacam itu sangat cocok untuk dijadikan souvenir. Temuan ini dengan jelas menegaskan bahwa kombinasi antara estetika kawaii Jepang yang telah mendunia dengan kekayaan lokal Indonesia, baik dari segi aroma, motif, maupun cerita, memiliki potensi yang sangat besar untuk menembus pasar Asia Timur, bahkan global.

Kesimpulan: Ekonomi Emosional dan Diplomasi Budaya Masa Depan

Pada akhirnya, cute economy tidak lagi sekadar tentang estetika visual semata. Lebih dari itu, ia telah berkembang menjadi sebuah strategi ekonomi berbasis emosi dan identitas. Kemampuannya dalam menciptakan koneksi emosional dengan konsumen menjadi fondasi kuat untuk membangun loyalitas merek dan mendorong konsumsi berkelanjutan. Bagi Indonesia, fenomena ini membuka jalan baru yang prospektif untuk diplomasi budaya. Dengan memadukan unsur "imut" yang universal dengan kekayaan budaya lokal yang unik, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkenalkan identitasnya ke panggung global, tidak hanya melalui produk, tetapi juga melalui cerita dan emosi yang melekat pada setiap item "imut" tersebut. Ini adalah bukti nyata bahwa sentimen "kelucuan" memiliki kekuatan transformatif untuk membentuk masa depan ekonomi dan hubungan antarbudaya.

TAGS: Cute Economy, Kawaii, Ekonomi Kreatif, Diplomasi Budaya, Indonesia, Jepang, CORE Indonesia, Tokyo City University
Ilustrasi gaya

Comments